Jumat, 30 Oktober 2009

Happy weekend

Dan yah..
Tahu-tahu Sabtu datang lagi kan?
Jadi ya sudahlah..
Selamat berakhir pekan.
Loncaaaaaaaaaaaat!! :D



Kamis, 29 Oktober 2009

Merasa patah hati

Gara-gara "Nine million bicycles" yang saya post kemarin, ada yang mengira saya habis honeymoon di Beijing. Hahaha. Boro-boro. Melihat secara jelas peta Beijing di atlas saja saya tidak pernah, apalagi menginjakkan kaki disana. Honeymoon pula. Whew! Dengan siapa? :p

Beberapa yang lain mengatakan saya sedang jatuh cinta.

Tapi sebenarnya saya malah sedang patah hati.

Ah, entahlah. Saya cukup bingung dengan keadaan sekarang. Bingung mengapa bisa dengan bodohnya berkali-kali gagal menghilangkan perasaan ini. Perasaan jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua..dan seterusnya sampai sekarang. Dan mungkin sampai mati.

I write you, and erase...and rewrite.
And it suffered me so much..

---

Semalam kamu datang. Duduk bagaikan patung dewa diruang tamu ibuku. Oh, ya salah. Patung dewa tidak memegang gitar, tentu saja. Semalam kamu memainkan gitarnya. Lagu kesukaan yang sering kamu mainkan, "Karena Ku Tahu Engkau Begitu". Ya, kamu begitu piawai memetik melody nya. Dan saya cuman diam memperhatikan. Jarimu. Tanganmu yang besar. Matamu yang berkali-kali mencuri tatap ke arahku. Bibirmu yang bergerak-gerak menyanyikan liriknya.

"Saya sayang kamu." Katamu semalam, sebelum pulang.
"Saya juga sayang kamu."
Lalu kamu memeluk saya.
Hei, hei.. ini di teras rumah. Supaya kamu tahu ya, tetangga depan itu suka mengintip dan saya jamin di jam segini mereka belum pada tidur.
Tapi kamu malah memeluk lebih kuat.
Kamu bilang, "aku gak peduli."

Saya mencintai kamu, dan saya tahu kamu mencintai saya sama besarnya.


Tapi entah mengapa, saya tetap merasa patah hati.




Selasa, 27 Oktober 2009

9 Million bicycle



There are 9 million bicycles in Beijing..
That's a fact, a thing we can deny
Like the fact that i will love you till i die..

Sungguh saya baru tahu kalau ternyata sepeda di China ada sebanyak itu. Kalau begitu pastilah kaki orang-orang China itu pada kuat-kuat.
Hm..lagu itu manis ya?
Seperti fakta tertulis yang tak bisa lagi ditentang, saya juga mau bilang "Saya sayang kamu". Sayangnya tidak hanya sebanyak 9 juta sepeda..tapi lebih dari seluruh dunia bila digabungkan sekaligus. Kamu tahu?

We are twelve billion light years from the edge,
That’s a guess,
No-one can ever say it’s true
But I know that I will always be with you


Lebih dari sesuatu yang tidak pasti..
Mungkin tidak selamanya -yeah..siapa mati duluan kita tak tahu kan, hehe-, tapi kujanjikan aku akan selalu ada. :)

I’m warmed by the fire of your love everyday
So don’t call me a liar,
Just believe everything that I say

There are six BILLION people in the world
More or less
and it makes me feel quite small
But you’re the one I love the most of all

[INTERLUDE]
We’re high on the wire
With the world in our sight
And I’ll never tire,
Of the love that you give me every night

There are nine million bicycles in Beijing
That’s a Fact,
it’s a thing we can’t deny
Like the fact that I will love you till I die

And there are nine million bicycles in Beijing
And you know that I will love you till I die!


Ya sudahlah, mari kita dengarkan saja lagunya..
Saya sedang tak pandai bernarasi, Oktober hampir berakhir dan saya terlalu sibuk dengan pekerjaan disini. Jadi, dengarkan saja ya?

PS : I love you.





Rabu, 21 Oktober 2009

Tos skren

Hahaha..!
Sungguh kemarin ada kejadian lucu. Yang membuat saya ternganga heran lalu terbahak tak tertahan. Huihihihihi...

Customer saya itu, ada-ada saja. Sebentar saya gambarkan dulu bagaimana orangnya. Tinggi besar hitam, dengan gaya sengak dan logat khas Maduranya yang kental. Eh, tapi jangan salah..gitu-gitu dia itu bos. Mungkin karena itulah gayanya agak nyebelin. Sengak dan sok. Sedikit-sedikit mau berbicara pake istilah bahasa Inggris (dengan logat Madura, tentu saja). Tapi gilanya, Inggrisnya itu .. ampun deh, parah banget.

Kemarin si customer sengak ini datang ke kantor. Lalu mamerin hape barunya.
"Hape baru..rek.." katanya sambil nunjukin hapenya ke saya.
Saya cuman melihat hapenya sekilas lalu masang senyum agak terpaksa.

"Niw...niw.." katanya lagi. Maksudnya, baru. Gitu.
"ooh.." saya cuman manggut-manggut.

Masih saja tidak menangkap isyarat ketidaktertarikan saya, dia kembali melanjutkan
"Ini seri terbarunya, yang toskren."

Saya langsung mandangin mukanya dengan tatapan aku-tak-ngerti.
"Iya...toskren. Masa kamu tidak tahu sih??" dia berusaha menjelaskan, sepertinya.

Saya semakin ternganga.
"Ya ampun .... " katanya. "Skren nya, pake tos."

Mudah-mudahan tidak ada lalat yang terbang nyasar kedalam mulut saya yang masih terbuka.
"Aduh....sentuh loh, sentuh." Dia mengangkat hapenya tinggi dan menyentuh layarnya dengan jarinya.

"Oooooooooooooooh..."
Maksudnya touch screen [tauch skrin]. Skrin kok jadi skren sih?


"Buruk sekali sih bahasa inggris kamu..." tatapannya menyepelekan. Saya menahan senyum setengah mati.
"Pergilah les bahasa inggris..kalo TOS SKREN aja tidak tahu, itu parah.."
Sekarang saya setengah mati menahan diri agar tidak melemparkan stapler ke gundulnya.

Tiba-tiba boss saya nongol dari dalam.
"Hey, Siang boss." lalu mereka bersalaman. Boss saya melirik ke atas meja dan melihat hape tersebut tergeletak disana.
"Hape baru lagi nih..." kata boss saya, diam sebentar. Lalu melanjutkan "Wah..TAUCH SKRIN [touch screen] yaa.."

Si customer sengak langsung menganga bego. Saya terbahak membahana. Boss saya bingung.



PS : moral dari cerita diatas, jangan terlalu banyak ngomong kalo belum terlalu banyak tahu. Hahahaha..




Selasa, 20 Oktober 2009

The man who can't be moved


Cause If one day you wake up and find your missing me..
and your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinkin maybe you'll come back here to the place that we'd meet

And you'll see me waiting for you on our corner of the street

So I'm not moving,.. I'm not moving,

I'm not moving, I'm not moving ....

People talk about the guy that's waiting on a girl
There are no holes in his shoes but a big hole in his world
...
---

Bunyi genset sedang mencoba bertarung dengan suara merdunya The Script yang bernyanyi cukup nyaring dari balik speaker.. Hari ini panas dan mati lampu, dalam kondisi mood yang sedang tidak begitu bagus, saya mencoba bernyanyi..mengikuti The Script.

Policeman says, "son you can't stay here"
I said, "there's someone I'm waiting for If it's a day, a month, a year"
Gotta stand my ground even if it rains or snows

If she changes her mind this is the first place she will go...

Betul kata seseorang, menciptakan sebuah lagu benar-benar membutuhkan sebuah "feel" yang mengena. Jadi liriknya bisa meresap, dari kuping menjalar ke otak..turun ke hati. Lalu mensintesis sebuah rasa, bisa feeling-blue..atau missing you..

Saya tahu, dia berkata demikian karena miliki kisah yang sama seperti lagunya. The Man Who Can't Be Moved ini..

Cinta dan bodoh sepertinya hanya beda tipis saja..
Sekian lama ia terlihat berdiri disana, diam mematung..tegak bagaikan mercusuar ditengah laut. Menanti kedatangan kapalnya. Lenteranya tak pernah padam, ya..tak pernah padam.

Padahal sudah kami teriakkan padanya untuk pindah, bergerak dari sana.
"Move on..move on, kawan.." begitu kata kami.
"Hei sudahlah..jangan disitu terus. Banyak hal yang sudah kau lewatkan. Sudahlah, patah hati itu biasa." begitu kata yang lain.

Tapi rupanya dia tetap saja keras kepala.
Katanya ini bukan patah hati biasa..
Dan persis seperti lagunya ia juga bilang, "kalian tidak mengerti.."

Dan saya bilang sekali lagi cinta dan bodoh hanya dibatasi oleh satu garis tipis, rupanya..

Dan setelah sekian lama.. kemarin saya bertemu lagi dengannya, the man who can't be moved itu. Secara tidak sengaja saya melewati persimpangan itu, dan tentu saja..yeah. Ia tetap berdiri disana. Rupanya ia tetap berharap suatu hari gadisnya akan merasa rindu dan kembali menemuinya di tempat pertama kali mereka bertemu.

--

Saya tidak bisa berkata apa-apa. Kemarin saya memang lewat situ. Kebetulan saja,. sekalian ingin tahu..apakah kamu masih tetap disitu atau tidak.

Oh ya, gadismu titip pesan. Terima kasih sudah menunggu, dan ia berharap akan bisa segera menemuimu disana..katanya. :)



Jumat, 16 Oktober 2009

Janjian yang bukan kencan

Dan.. meskipun tidak diundang, toh sabtu datang lagi. Dan meskipun sabtu toh saya tetep aja duduk dibelakang meja di kantor ini, menghadapi komputer dengan 8 file terbuka sekaligus, lagu Gita Gutawa yang "Aku Cinta Dia" dan 5 window Yahoo Messenger yang sedang berkedip-kedip tanda banyak pesan masuk.

Hahaha..

Oh yah, sabtu memang harus di nikmati :p

Jadi, apa pula cerita?

Hm..

Hmm..

Ah, ada-ada.
Barusan saya menerima sebuah sms. Ajakan makan siang dari seseorang. Sudah lama tidak duduk semeja, katanya. Saya balas pesannya dengan kalimat persis seperti ini untuk menggoda si pengirimnya,
"Ditraktir, kan? :p"

Dan tentu saja saya pasti ditraktir. Tahu-tahu kami sudah janjian jam 1 siang ini disebuah restoran di salah satu sudut kota. Bertemu saja disana, kata saya. Ada beberapa faktor-faktor tertentu yang menyebabkan saya lebih memilih untuk datang sendiri.

Salah satunya adalah karena dia itu..mantan pacar pertama saya :D
*Halah, bahasanya. Seperti punya selusinan mantan saja.*

Huahahaha..

Loh, kenapa? Jangan mandangin saya seperti itu dong. Ini cuman janjian makan siang, bukan kencan. Bukan. Oke?

Ya sudah, selamat menikmati akhir pekan.
Saya pergi dulu, sepertinya si pak dosen sudah menunggu, hehe. *lebih aman kita sebut begitu saja, ya?*

:p



Apalah khaaan..

Jadi..
Ini cerita tentang ibu tiri saya.
Sebenernya apapun kondisinya itu, saya agak enggan menyebutnya "ibu". Bukan..bukan karena ada dendam pribadi, biasa sajalah. Hanya saja ada perasaan sedikit "emoh" untuk menambahkan embel-embel "ibu" kalau menyangkut semua urusan tentang dia.. Kami panggil dia "tante". Dan tentu saja dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, istilah "tante tiri" tidak bisa digunakan untuk menyebut "wanita lain yang dinikahi ayahmu". Ya kan ya?

Okelah, kita sebut dia tante.

Si tante ini gaul sekali. Hubungan saya dengan dia bisa dikategorikan baik untuk kondisi yang seperti ini. Ya..kami tidak tinggal serumah dengannya. Jadi, kadang2 bertemu saja kalau kami sedang bertamu kerumah ayah.. Err..orangnya? yah..gitu-gitulah. Dia seumuran saya.

Yang jelas, setiap bertemu dia, saya selalu sakit perut menahan tawa..bagaimana tidak sih kalau gayanya suka edan-edan teling? Ada-ada saja. Mulai dari cara ngomong yang menirukan Chincha Lawrah (sumpahh..ini benar :D) sampai membeli Blackberry yang ternyata cuman dipake buat sms-an doang.

Saya trenyuh dan berjanji akan mengajarinya internetan suatu hari nanti..
:D

Lalu, kebiasaannya itu selalu menambahkan "Apalah khaaaan?" disetiap akhir kalimatnya.
"Khaan"-nya itu disuarakan dengan penuh gaya dan "H"-nya ditekankan.

Misalnya nih,
"Ih..iya, emang bewrapa sich harga Black (ngomong 'black'nya ini dengan mulut monyong abis) bewri..masa gak mampu beli. Ck. Apalah khaaaan.." lalu mengibaskan rambut rebondingnya.

Saya cuman bisa megang perut dan sedikit ngangguk sambil jawab dengan suara parau "Iya tantheee.."

Anaknya yang paling besar sekarang bersekolah di TK nol besar kelas "stroberi" *eniwei, aneh2 ya nama kelasnya.*
Namanya Kevin, si adikku itu. Namun herannya, ibunya suka membahasakannya menjadi "Kew-vhin".

Suatu ketika, saya iseng menanyakan kepada si adik saya itu..sekarang sudah kelas berapa. Mamanya yang menjawab.
"Kew-vhin...kamu kelas, eh..bewrapa tuch..nol bewshar. Ya...kelas STROW...BEWRIH khan nak?.. Apalah khaaaan.." *kepala agak digoyang*

Moso oloh.
Rasanya pengen saya sahut,
"ya..tanthee...Shahruk Khaaan..gitu lho book.."
Tapi berhubung ayah saya sedang duduk merokok di dekat situ, saya cuman menjawab "oooh.." lagi lagi dengan suara parau.

Yah, begitulah. Ib* tiri saya selalu lucu. Saya curiga, mungkin inilah yang membuat ayah saya tertarik dengannya. Aksen-inggris-kacau-nya. Hahaha. Memesona, sepertinya.

Ah.
Apalah khaaaaaaan.... :D *dengan H ditekankan*

Sudah ah, stop gosipin orang :p